Warna
By : Aldilla Feby
Suara burung dari luar jendela membangunkan Mia, Mia menatap kanvas kosong, kuasnya menggantung di udara seperti ranting kering. Dinding kamarnya dipenuhi sketsa yang gagal dan warna-warna yang berbaur kusut. Dia mengembuskan napas, dan rasa frustrasi memenuhi pikiran. “Apa aku berhenti saja ya?” pikirnya. Desiran angin dari luar jendela membawa aroma cat yang belum kering dan ketenangan sesaat.
Mia adalah anak SMP, ia berumur 15 tahun bulan lalu —rasanya seperti lukisan yang di cat ulang katanya. Mia sangat menyukai kegiatan melukis dan bahkan memiliki studio seni kecil-kecilan di rumahnya, tempat dia menciptakan karya dengan berbagai warna dan sapuan kuas lembut. Tapi kegiatan melukis, mulai terasa berbeda —Mia kehilangan keahlian menemukan inspirasi ajaib nya.
Belakangan ini kegiatan melukis bagi Mia tidak terasa menyenangkan. Semuanya nampak salah dan berbeda. “setidaknya sampai salah satu dari semua ini bisa memuaskanku” katanya. Dia selalu menginginkan yang lebih, lebih, dan lebih dari yang dia buat.
sepulang sekolah Mia memutuskan untuk mengunjungi sebuah taman tempat audisi musik diadakan dan mencari inspirasi di sana. Dia mendengarkan nenek yang sedang bernyanyi lagu ‘Let it go’ dari film Frozan dan juga seorang gadis dengan kuncir dua dan biola yang putus.
Saat sedang duduk santai di dekat pohon beringin yang tampak menyeramkan ada sebuah poster di jalanan yang terbang terbawa angin.
“Pameran ‘Van Gogh Alive’ kayaknya asik deh, ‘menampilkan 3.000 karya Vincent Van Gogh’ WAW! banyak banget! Sayang kalau di lewatkan!” Kata Mia antusias “pameran nya besok nih! Baiklah kayaknya melihat lihat sebentar tidak ada salahnya deh!”. Mia memutuskan pergi ke pameran untuk mencari inspirasi di antara karya-karya unik Vincent Van Gogh.
Karya-karya Vincent Van Gogh di proyeksikan di layar besar, dinding, dan juga lantai. Dengan diiringi musik klasik, membuat Mia makin larut dalam ketenangan.
Lukisan-lukisan populer Van Gogh di pamerkan. The Starry Night, sunflowers, cafe terrace at nights, the red Vineyard, dan berbagai macam potret diri sendiri. Bukan cuma memamerkan lukisan, pameran tersebut juga menceritakan perjalanan hidup dan perkembangan seni Vincent Van Gogh.
Sekarang Mia paham: setiap lukisan adalah potongan jiwa, tidak ada yang sempurna, tapi itulah keindahannya. Mia pulang kerumahnya, mengambil kuas, dan melukis dengan bahagia tanpa mempedulikan hasil akhirnya nanti. Warna-warna meledak di kanvas. Hitam menelan biru, merah menari dengan kuning. Kanvas menjadi laut kekacauan.
Mia sadar, bahwa seni bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang ekspresi diri dan menikmati prosesnya.
——————————————————
Terimakasih sudah membaca!
Apakah kalian bisa menemukan easter egg di cerpen ini?