Aku berdiri di tengah hamparan air garam.
Pasir-pasir kasar menyapa kaki ku,
kegelapan malam menanti diriku di kedalaman samudra.
Bintang-bintang memancarkan cahaya nya,
menari di antara gelombang.
Suara bisikan mengalun indah di telingaku,
meminta untuk mendekat kepada bayang-bayang.
Kabut laut menyambut kehadiranku.
Berbaur dengan air bergasir yang menyentuh indra perasaku.
Akhirnya aku menyatu dengan bahari,
mengalir bersama riak-riak kecil di pinggir pantai.
Ikan-ikan berkerumun,
memberikan kecupan selang-selang yang terasa menyayat.
Terumbu karang seolah menyorakiku,
dan lautan mendekapku bersama dingin yang menusuk.
Menghilang tanpa jejak bersama deburan laut.
Bintang-bintang, cahaya rembulan, semilir angin, butiran-butiran pasir, dan air asin yang menjadi saksi bisu atas keputus asaan.
—Julia marantika putri.