Survive or Die
by: Miftahurroahma
Hujan dengan lembut menyapa pagi indahku di sekolah. Rintikannya terdengar samar, mungkin karena headphone yang sedang kukenakan.
Pagi itu, aku duduk sendirian di tangga samping kelasku, tak memedulikan sekitar. Aku hanya fokus pada game yang sedang kumainkan di ponselku.
“Ah, sial!” Aku keceplosan mengucapkannya karena sangat kesal. *Haduh, game over lagi. Padahal sedikit lagi menang. *keluhku dalam hati.
Yah, perkenalkan, dia adalah Kaji Leonard, akrab dipanggil Kaji. Dia siswa kelas 11 SMA yang suka menyendiri, kurang suka berbaur, pintar tapi tak aktif. Ia lebih suka menghabiskan waktu sendirian di perpustakaan membaca buku, di taman mendengarkan musik, atau bermain game. Entah game apa saja yang sudah dimainkannya. bisa dibilang, dia maniak game.
Di sisi lain, ada siswa sekelas Kaji yang aktif dan berprestasi. Ia ceria, ramah pada semua orang, dan berasal dari keluarga yang utuh—cemara, apalagi sebagai anak tunggal, sama seperti Kaji. Namun, keceriaannya memudar saat hari itu tiba: hari di mana kedua orang tuanya pergi selamanya. Ya, dialah Pradipta Raka Pratama.
Raka kehilangan kedua orang tuanya sejak kelas 2 SMP. Kini, ia hidup sendirian tanpa peran orang tua di masa remajanya. Butuh waktu lama baginya untuk ceria kembali. Setelah masuk SMA, ia berhasil bangkit dari kesedihan panjang itu, kini punya banyak teman, dan terus berkembang.
Suatu hari di perpustakaan kota, Raka sedang fokus belajar matematika. Tanpa sengaja, ia melihat Kaji yang sedang membaca buku sambil mendengarkan lagu lewat headphone kesayangannya. Raka menatap Kaji dalam-dalam cukup lama. Sayangnya, Kaji peka. ia tahu dirinya diperhatikan. Kaji menoleh, dan mereka beradu tatapan. Kaji tak berkata apa-apa, hanya memandang kosong lalu melanjutkan membaca.
Raka tertegun, seperti seorang mangsa di depan harimau. Ia berdiri, menuju rak buku belakang tak jauh dari tempat duduknya. asal ambil buku lama, lalu duduk kembali berpura-pura membacanya. Entah kenapa, hatinya tergerak melakukannya. Sebenarnya, ia sedang berpikir. Wah, ada Kaji. Hmm, aku iri dengannya. Dia tak hanya atletis tapi juga pintar. Pasti keluarganya cemara. Aku ingin berteman dengannya, gumam Raka dalam hati.
Bagi Raka, Kaji yang tertutup justru memicu rasa penasaran. Ia ingin tahu lebih dalam tentang Kaji dan berteman dengannya.
Raka melirik jam tangannya. Hmm, masih ada waktu sebelum makan siang. Aku ingin mengobrol dengannya. Tapi, bahas apa ya? Hua, bingung. Ia berpikir keras mencari topik.
Di tengah kebingungan, Raka melihat buku yang baru diambilnya. ternyata tentang jenis-jenis game. Antusias, ia membolak-balik halamannya sekilas, tahu Kaji suka game. Akhirnya, ia temukan catatan yang dilipat kecil di halaman terakhir.
Hei, yo bro! Selamat karena menemukan catatan ini. Kau tahu? Aku yakin tak banyak yang tahu atau menemukan catatan ini. Aku bahkan tak tahu catatan ini akan sampai ke mana. Di sini, aku mau beri tahu satu game menarik, tapi penuh risiko tinggi. Pikirkan matang-matang jika mau memainkannya.
Game ini proyek besar ku dan sahabatku. Kami rancang berdua selama ±4 tahun, tapi ada kesalahan dalam pembuatannya. Mungkin ini game gagal, tapi seru dan mudah untuk gamer berpengalaman. Langsung ke intinya: kami namai game ini “Survive or Die”. Seperti namanya, bertahan dan selesaikan, kau menang. Menyerah, kau kalah—atau terjebak. Syaratnya sederhana, mainkan 2-7 orang. Jangan sendirian. Hanya satu di dunia, tak ada salinannya. Risikonya tinggi.
Jika kau temukan game ini, buka amplop di catatan ini. Semoga berhasil pulang dengan selamat and.. good luck bro!
Di dalam surat, ada amplop berisi CD game dengan tanda tangan dua nama: “Steven Holmes” dan “Yin Leon”.
“Sepertinya nama pembuatnya,” gumam Raka. Tanpa pikir panjang, ia menghampiri Kaji.
“Yo, Kaji!” sapa Raka ramah.
Kaji menoleh. “Siapa?”
Raka tersentak. “Serius? Kamu ga kenal aku? Padahal sekelas!”
Kaji menutup mata, mengingat sebentar. “Pradipta Raka Pratama?”
“Binggo! Akhirnya ingat,” ujar Raka.
“Ada apa?” tanya Kaji.
Raka duduk di depannya. “Kamu suka game, kan? Aku nemu game bagus nih. Mau coba bareng?”
Kaji memeriksa CD dan surat game itu. Matanya berbinar. “Dari mana nemu ini?”
“Di rak buku lama belakang. Nama penulisnya disingkat ‘Stevenyin, S.Y.’ gitu kalau ga salah,” jawab Raka.
Kaji memeriksa berulang kali. Setelah diam, ia berkata, “Ini game legend.”
Mata Raka pun berbinar. Ia telah temukan harta karun.
★~~~~~~~~~~★
Suasana hening hingga Raka memulai lagi. “Hmm, jadi? Mau main denganku? Aku pemula, ga mau sendirian.”
Kaji berpikir, hembuskan napas, lalu membereskan barangnya. “Ikut aku.”
Raka mengikuti hingga rumah Kaji. “Masuk,” kata Kaji. Mereka naik ke kamarnya.
Raka suka rumah itu. hangat, rapi, bersih. “Ee, Kaji,” ucapnya ragu.
“Duduk di sofa,” arah Kaji. Kamarnya luas, nyaman. “Uwah, rumahmu nyaman. Pasti keluargamu rajin bersih-bersih. Keluargamu lagi pergi ya? Tak ada siapa-siapa.”
Kaji buka lemari koleksi game dan buku di kamarnya, mengambil dua buku berdebu. “Survive or Die”. Ia bersihkan debu, beri satu ke Raka, lalu pasang headphone, berbaring, dan bercerita.
“Di sini aku tinggal sendiri.” Kalimat pertama itu membuat Raka seketika bisu.
“Aku dirawat kakek dan nenek waktu kecil. Orang tuaku ga tahu di mana, aku juga ga tau wajah mereka. Aku tumbuh bersama kakek, nenek, dan om. Kakek serta om suka game. Suatu hari, sahabat mereka merencanakan sesuatu. Empat setengah tahun kemudian, mereka bilang telah membuat game dan ingin keluarga kami yang coba pertama kali. Ada kesalahan program dalam game ini, tapi ga ketemu di mana.”
“Waktu itu, empat orang yang main: kakek, om, dan dua penciptanya. Aku cuma nonton dari jauh, mereka suruh jaga jarak. Saat mulai, mereka tersedot ke dalam game. Layar tunjukkan mereka berubah menjadi karakter. Peringatan: tak keluar sampai kalahkan boss dungeon. Aku yang masih berumur 8 tahun, lari menangis ke nenek. Kami kembali kerumah om steven. membongkar buku harian, dan menemukan buku game ini. Kami tahu mereka terjebak beneran. Panik, aku pingsan. Pas bangun udah di rumah. Beberapa hari kemudian, nenekku berpulang—mungkin karna efek syok. Aku sangat terpukul. dan memutuskan ga sentuh game selama 4 tahun. dan Kini, aku kembali.”
Mendengar kisah pilu Kaji, Raka tersentuh. Tak disangka masa lalu Kaji sangat kelam.
“Yah, aku ga ingat jelas. Semua terlalu cepat, otakku memaksa lupa akan kejadian itu. Sejak itu, aku tinggal sendiri, tapi keluarga ku yang lain tetap bantu walau ga satu rumah. Makanya aku masih bisa hidup.”
Raka salah sangka soal kehidupan Kaji, merasa tak enak. Tapi Kaji terlihat tetap tenang.
“Apa tujuanmu main ini? Katanya ada trauma, kenapa tetap mau?”
“Aku mau selamatkan mereka, mau dalam kondisi hidup atau mati.”
Tekad Kaji bulatkan hati Raka: ia akan temani hingga mimpi kaji terwujud, walau nyawa jadi taruhan.
“Jadi? Kapan mulai?”
“Aku butuh waktu kumpul info biar ga salah langkah. Ga tahu kenapa game ini sampai di perpustakaan.”
“Oh, oke. Infoin kalau kelar,” kata Raka.
“Beri 3 hari,” jawab Kaji.
Hari semakin larut, Raka pamit pulang. Di rumah, ia tak bisa tidur, bayangkan petualangan dengan Kaji. Raka sangat bersemangat.
★~~~~~~~~~~~~★
Tiga hari berlalu. Raka menuju perpustakaan, berharap menemukan kaji disana. tapi raka mampir sebentar ke taman kota, memberi makan merpati. saat sedang memberi makan merpati, Raka meihat Kaji duduk santai dengar musik di kursi taman.
“Yo, Kaji!” Raka hampiri, duduk.
“Gimana penelitiannya?”
“Ga terlalu bagus. Ga pasti game ini asli atau palsu. Tapi kalau analisa ku benar, game ini asli. Game ini harusnya ga punya salinan, ada bug, belum di publish, dan baru dimainkan sekali.”
“Hmm, kalau benar, kenapa ada yang punya? Dapat dari mana? Dan apa tujuannya?”
“Kalau analisa ku benar lagi, pembuat surat itu bisa jadi anaknya Om Steven. Waktu itu, ada anak yang lebih tua dariku di lokasi. Mungkin sengaja dia taruh di perpustakaan, berharap ada yang mau selesaikan game ini. Tapi kata keluarga ku dulu, dia udah meninggal kecelakaan luar negeri.”
Raka mengangguk.
“aku kurang tahu detailnya. Dengar pun cuman sekilas dari keluarga.”
Raka cairkan suasana. “Jadi, kapan main?”
Kaji keluarkan buku “Survive or Die”, beri ke Raka. “Pelajari. Jangan jadi beban. Kalau siap, besok sore di rumahku.”
Kaji pergi, meninggalkan Raka.
Sesampainya di rumah, Raka pelajari game itu semalaman. dia ga mau kecewakan Kaji. Dia mau berusaha keras agar mimpi kaji terwujud.
★~~~~~~~~~~★
Esok, jam menunjukan hampir pukul 15.30, Raka tiba di rumah Kaji. Mereka sudah siap.
“Siap?” tanya Kaji. Raka mengangguk.
“1… 2…” Raka gugup—ininpertama kali baginya memainkan game ekstrem.
“3!” Muncul cahaya yang sangat terang dari PC, dan seperti menyedot mereka kedalam..
*GAME START!*
Raka dan Kaji sudah berada di dalam game. Sulit di percaya, tapi ini lah kenyataannya. Untungnya Kaji dan Raka sudah merencanakan semua sebelum memulai game.
(Flashback sebelum mulai)
“Nanti waktu masuk, kita langsung ada di base utama, tepat di depan dungeon. Di lantai 1 kita cari tumbuhan kuning, biru, merah yang bersinar. Kita tukarkan jadi senjata. Musuh di lantai 1-3 itu ada slime hijau, slime beracun, dan goblin pemanah. kita teruskan sampai di lantai 5. disana, kita kumpulkan berlian dan tukar dengan zirah. Daftar monster di buku harian om steven juga jelas. Di lantai 4 sampai ke finallboss, bakal ada serigala bayangan, elf liar, orc prajurit, skeleton, spirit sihir, monster tentakel, dll. Dan di Lantai 15 musuh terbesar kita, finalboss Black Dragon. Dungeon ini emang ga banyak lantainya, tapi lantainya lantai mau semua. Jadi kita harus bekerja sama.”
Raka pusing tapi paham.
(Kembali)
“Oke, masuk!” Mereka baru melewati sekitar 3 meter dari pintu masuk. Mereka menemukan bunga merah-biru bersinar. Kaji langsung menukarkannya dengan pedang.
Saat mereka sedang memetik bunga-bunga itu, Slime hijau datang menyerang dari belakang.
“Raka, cepat tukar senjata!” raka menukarkannya dengan senjata pilihannya dan mereka menyerang slime-slime itu.
30 menit berlalu~
Mereka berhasil mengalahkan para slime itu. dan sekarang mereka beristirahat di dekat batu besar.
“Huaa cape banget, baru lantai 1,” keluh Raka.
“Yah, nanti juga kebiasa. Bentar lagi naik lantai 2. Istirahat lagi nanti di lantai 3 atau 4.”
“okke”
setelah istirahat sebentar, mereka melanjutkan perjalanan ke lantai dua. mereka melawan goblin pemanah, dan sempat menukarkan sebagian bunga-bunga tadi dengan perisai. mereka tetap melanjutkan perjalanan hingga mereka kewalahan setelah menghabisi lawan di lantai 3.
“hah..hah..hah..”
“di sini makin kuat aja nih makhluk-makhluk yang ada di sini, benar-benar nguras tenaga” ucap raka. kemudian dia berbaring dengan nafas nya yang naik turun.
“yahh, semakin tinggi level nya maka semakin kuat dan banyak juga musuhnya. gapapa, ga boleh nyerah, ini cuman 15 lantai, tapi lantai maut”. ucap kaji
raka kemudian berdiri mengumpulkan semangat. “okke kita harus tetap semangat! ayo kita lanjutkan”
Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga sampai ke lantai 5, tempat dimana musuh semakin kuat. Disana ada sebuah kolam yang tidak terlalu besar dan dalam, sehingga mereka bisa mengisi ulang persediaan air mereka. Disana juga banyak item dengan peringkat yang lumayan, sehingga mereka bisa menukarkannya dengan baju zirah dan perlengkapan lainnya.
★~~~~~~~~~~~~★
Ga kerasa, lantai demi lantai selesai. Mereka ga istirahat banyak dengan alasan “Nanggung, bentar lagi naik lantai.”
★~~~~~★
Pada akhirnya, mereka terus melanjutkan perjalanan hingga tiba di lantai 14.
“Sepertinya di sini sepi. Mungkin mereka ada di bagian dalam,” ujar Raka.
“RAKA, AWAS!” teriak Kaji panik.
Saat Raka berbalik menghadap Kaji, ia diserang dari belakang oleh serigala bayangan. Untungnya, Raka sempat menghindar.
“Raka! Kamu gapapa?” tanya Kaji cemas.
“Aman,” jawab Raka singkat.
“Hati-hati. Mereka serigala bayangan, jangan sampai lengah,” ujar Kaji.
Mereka terus diserang oleh serigala bayangan tanpa henti hingga kelelahan.
Dalam situasi yang sangat kacau itu, Kaji dengan cepat memutar otak, mencari cara untuk mengalahkan para serigala bayangan tersebut.
Tak lama kemudian, sebuah rencana muncul di benaknya.
“Raka!” panggil Kaji.
Raka langsung melompat dan berdiri di sampingnya.
“Dengarkan baik-baik. Kamu alihkan perhatian mereka, biar aku yang menyerang,” kata Kaji.
“Oke,” jawab Raka mantap.
“WOI! DI SINI, DI SINI!” teriak Raka, berusaha menarik perhatian para serigala.
Sesuai rencana, para serigala bayangan mengejar dan menyerang Raka. Sementara itu, Kaji berada di belakang mereka dan menyiapkan sebuah permata.
“Berkahilah permata ini. Berikanlah cahaya dari surga, HEAVENLY LIGHT JEWEL!”
Seketika, permata itu memancarkan cahaya terang yang menyilaukan. Para serigala bayangan musnah dilahap cahaya.
Namanya juga serigala bayangan. Mereka tercipta dari kegelapan, sehingga tentu saja musnah ketika terkena cahaya.
★~~~~~~~~~~~★
“Hah… hah… hah…”Hanya suara napas terengah yang terdengar di lantai itu. Semua monster telah berhasil mereka kalahkan.
“Capek banget…” keluh Raka.
“Mungkin karena kita hanya istirahat sekali dari lantai 6 sampai sini. Ditambah lagi barusan kita mengalahkan segerombolan serigala bayangan. Benar-benar melelahkan,” ujar Kaji.
“Yah, kita sudah di lantai 14. Tinggal mengalahkan final boss di atas, setelah itu kita menang,” kata Raka.
“Sebaiknya kita beristirahat cukup di sini. Gunakan waktu dengan baik. Waktu kita tidak banyak. Intinya, kita perlu memulihkan tenaga dan mengumpulkan energi sebelum menghadapi boss di atas,” ujar Kaji.
“Setuju. Kita juga harus mengisi perut dulu. Persediaan kita masih banyak. Lebih baik kita masak dan makan supaya bertenaga,” kata Raka.
Raka mengeluarkan semua perbekalan mereka. Namun, ia tiba-tiba terdiam. Ia lupa bahwa dirinya tidak terlalu pandai memasak. Melihat Raka yang mematung, Kaji langsung paham.
“Kamu siapkan apinya aja. Biar aku yang mengolah bahannya,” kata Kaji.
Wajah Raka langsung berseri.“Siap, Kapten!” ucapnya semangat sambil memberi hormat.
Ia segera menyiapkan api untuk memasak.
Sesekali, Raka memperhatikan Kaji. Ia benar-benar telaten dalam memasak, seperti seorang master chef, dan itu membuat Raka kagum.
Kaji mengaduk sup yang ia masak, sementara Raka duduk menunggu.
“Nih, sudah matang,” kata Kaji.
“WAH, SUP! ITADAKIMASU!”Raka langsung melahap sup itu dengan gembira, seolah tidak makan selama ratusan tahun.
“Enak banget, serius. Ini bikin aku ingat masakan ibuku,” kata Raka.
“Ini sup jamur. Tadi aku lihat ada beberapa jamur di sana, ternyata bisa dimakan. Aku tambahkan daging juga, sisa dari monster tentakel di lantai 5,” jelas Kaji.
“Entahlah, aku tidak terlalu paham. Yang jelas, ini ENAK!” seru Raka.
“Hahaha… setelah makan, aku mau rebahan sebentar sambil ngumpulin mana,” kata Kaji.
Eh, Kaji tertawa? Seorang Kaji? Tertawa?Sepertinya dia terbawa suasana, pikir Raka dalam hati.
“Aku juga mau cepat habisin ini, lalu rebahan. Badanku capek semua,” kata Raka.
★~~~~~~~~~~~~★
Kaji membangunkan Raka yang tertidur pulas.“Hm… sepertinya dia kecapekan,” gumamnya.
Raka terbangun, mencuci muka, lalu minum sedikit air.
“Jadi, kita lanjutkan?” tanya Raka.
“Tentu,” jawab Kaji.
Mereka melanjutkan perjalanan dan tiba di tantangan terbesar mereka.
Saat memasuki lantai 15, hawa di sana terasa sangat berbeda.
“Ugh… hawanya berat sekali,” kata Raka.
“Hati-hati, tetap waspada,” ujar Kaji.
Tiba-tiba, mereka diserang dari belakang oleh semburan api. Berkat insting Kaji, mereka berhasil menghindari serangan naga hitam.
“RAKA!” teriak Kaji.
“AKU OKE!” balas Raka.
Mereka terus melompat ke sana kemari menghindari semburan api. Sesekali mereka menyerang, tetapi kulit naga itu terlalu keras.
Kaji mulai kehabisan akal. Ia tidak tahu cara mengalahkan naga hitam tersebut.
Hampir setengah jam berlalu, namun mereka belum berhasil mengalahkannya. Kini, mereka bersembunyi di dalam sebuah batu besar yang menyerupai gua.
★~~~~~~~~~~~~★
Kenapa ada batu yang mirip gua di dungeon?Entahlah. Intinya, SSA (Suka-Suka Author).
★~~~~~~~~~~~~★
“Hah… hah… manaku hampir habis,” kata Raka terengah-engah.
“Manaku juga,” sahut Kaji dengan napas berat.
“Kalau begini terus, kita yang akan kalah. Kita harus cari cara mengalahkan naga hitam ini,” ujar Kaji.
Mereka terus memutar otak hingga akhirnya Raka menemukan ide.
“Aku tahu!” seru Raka.
“Kita serang matanya, lalu hancurkan kristal di kepalanya,” lanjutnya.
“Rencana bagus. Aku akan alihkan perhatiannya, kamu yang menyerang,” kata Kaji.
“Oke. Kita keluar. Satu… dua… tiga!”
Mereka keluar dari persembunyian. Kaji berlari menjauh sedikit dari naga.
“WOI, NAGA! DI SINI!”
Perhatian naga pun teralihkan. Kaji kembali mengeluarkan permata putihnya.
“Berkahilah permata ini. Berikanlah cahaya dari surga, HEAVENLY LIGHT JEWEL!”
Cahaya menyebar dengan cepat dan menyilaukan naga. Saat naga menutup matanya, Raka melompat mendekat dan melemparkan kunai ke arah kristal di kepala naga.
Kunai itu tepat mengenai sasaran. Kristal pun hancur.
Naga meraung kesakitan dan kehilangan keseimbangan. Memanfaatkan kesempatan itu, Kaji dan Raka menyerang kedua mata naga.
Akhirnya, final boss dungeon Survive or Die pun tumbang.
Di tempat naga itu menghilang, muncul sebuah peti harta karun. Peti itu tidak terkunci. Saat dibuka, mereka terkejut melihat isinya.
“EMAS!!”
Ya, hadiah dari dungeon itu adalah emas, dan masih ada satu hadiah lagi yang menanti mereka di luar.
Tiba-tiba, lantai bergetar hebat. Setelah gempa berhenti, muncul sebuah pintu keluar di depan mereka.
“Wah, Kaji! Itu pintu keluar! Ayo cepat!” seru Raka antusias.
Mereka berlari menuju pintu keluar. Begitu tiba di luar, Kaji tertegun.
★~~~~~~~~~~~~★
Saat keluar dari dungeon, Kaji sangat terkejut melihat sosok yang menunggunya.
“Ka-kakek?!”
Benar. Yang berdiri di depannya adalah kakeknya, yang telah bertahun-tahun terjebak di dalam game. Meski terlihat semakin tua, topi cokelat dengan hiasan sepasang bulu di sampingnya membuat Kaji langsung mengenalinya.
“KAKEK!”Air mata Kaji pun tumpah. Ia menangis di pelukan kakeknya.
“Hahaha… lama tidak jumpa, Kaji.”
Di belakang kakek, berdiri Om Steven, Om Yin, dan Om Jaka.
Kaji masih tak percaya. Ia mengira mereka semua telah lama tiada.
“Yo lama ga ketemu kaji. pasti kamu syok ya? kenapa kami bisa hidup? Karena di dunia game ini ada sihir,” jelas Om Steven.“Kami yang menciptakan game ini, tapi terjebak karena kesalahan program. Game ini harus diselesaikan agar kami bisa keluar.”
Kaji terdiam. Lelah, puas, dan bahagia bercampur menjadi satu.
“Oh ya, gimana kabar anaknya om? Apa dia sehat? Dia juga tau soal game ini sih tapi dia kurang suka buat main game. Haduh lama aku ga jumpa dia”.
Kaji terdiam, dengan nafas yang berat, dia mengatakan “om maaf, dengan berat hati saya mau bilang sesuatu. Raka, ingat yang aku bilang soal anak om steven sehari sebelum kita kesini?”.
“Iya aku ingat” -Raka
“Malamnya aku dapat info dari salah satu teman ku, kebetulan dia temannya billy. Waktu itu aku lagi chatan sama dia, ngebahas masalah kuliah. Terus dia ngebahas soal billy. Dia bilang, billy uda meninggal karna kecelakaan di luar negri 5 tahun yang lalu. Dia bilang billy kuliah di sana, dia pengen cari cara buat ngeluarin om dari game ini. makanya dia rela belajar sampai keluar negri”.
Mendengar cerita kaji, om steven tidak bisa menahan air matanya. Anak semata wayangnya, sudah pergi meninggalkan dunia.
Terjunlah air mata om steven.
Om yin, om jaka dan kakek menguatkan om steven.
Hari mulai gelap, mereka masih belum ingin pergi dari dunia game ini. Saat malam tiba, kakek, om jaka dan kaji duduk di bawah langit yang dipenuhi bintang.
Menikmati dinginnya angin malam.
” Kek, om” ucap Kaji pelan.
” Nenek…”
” Sudahlah kaji, kakek sudah tau, sudah takdir. Kakek memang sedih, tapi kita bisa apa selain mendoakannya, semoga disana dia bahagia”. -kakek
” Yah, semoga dia bahagia di sana. Nanti pulang kita temui dia ya”.
Kaji hanya menahan tangisnya, dia tidak ingin menangis disini.
Lalu raka, om yin dan om steven menyusul mereka bertiga dan mereka berkumpul.
“Jadi, kapan kita akan keluar dari sini”. -Kaji
“Iya, aku udah kangen rumah” -Raka
“Kalian sudah menyelesaikan dungeon ini kan? nah kalau mau pulang sekarang kita cuman perlu membentuk lingkaran, saling berpegangan tangan dan yang sudah menyelesaikan dungeon harus mengucapkan mantra sihir”. -om steven
“Mantra sihir?” -Raka
” Ya, mantra sihir. Kalian cuman perlu bilang “Kami sudah selesai, saatnya kami pulang” secara bersamaan”. -om steven
” Ohh oke”.
Mereka pun berkumpul membentuk lingkaran dan berpegangan tangan.
Kaji dan Raka mengambil ancang-ancang.
“1.. 2.. 3!! KAMI SUDAH SELESAI, SAATNYA KAMI PULANG!!!”
Seketika badan mereka di selimuti cahaya, lalu cahaya itu semakin terang, menyilaukan mata. Semuanya menutup mata karna silau, saat mereka mulai membuka mata, mereka sudah ada di kamar kaji, tempat awal raka dan kaji memulai game.
” Ki-kita BERHASILL!!” teriak raka dengan antusias.
Mereka sangat bahagia bisa kembali ke dunia asal. Dunia tempat seharusnya mereka berada. Tapi tidak lama kemudian, kaji dan raka tekulai lemas di lantai, sepertinya energi mereka banyak tekuras.
Semuanya memutuskan menginap di rumah kaji, karna hari sudah menunjukan pukul 02.15 pagi.
” Oke semuanya sebaiknya kalian istirahat dulu disini, nanti pulang kalau sudah pagi”. Ucap kaji.
Kaji dan Raka pun hanya bisa berbaring di lantai sangking lelahnya.
“Oke mungkin kalian semua lapar. Oi kaji, apa ada makanan di kulkas mu?” -om jaka
“Ada persediaan makanan disitu, masak aja apa yang om mau”. Ucap kaji dengan nada yang lemas.
Akhirnya, om steven, jaka dan yin turun ke dapur untuk masak makanan. Sedangkan kaji dan raka sudah tertidur pulas di kamar. Dan kakek menjaga mereka berdua.
Tak lama kemudian, kaji terbangun mencium aroma harumm dan rasanya hangat. Saat kaji membuka mata, mereka semua sudah berkumpul di kamar kaji untuk maenyantap nasi goreng buatan om jaka, steven dan om yin.
“Kaji bangun, makan dulu sini”. Ucap kakek membangunkan cucunya.
Kaji bangun, dia turun kebawah untuk cuci muka lalu dia kembali kekamar menikmati nasi goreng telur dadar tengah malam bersama kakek, om jaka, om steven, om yin dan temannya, raka.
Mereka menikmati nasi goreng itu dengan penuh canda tawa. Rasanya penuh nikmat hangat kebersamaan.
entahlah, suasana kamar di rumah itu seperti hidup kembali.
TAMAT
dari cerita ini kita dapat mengambil beberapa pelajaran, yaitu
“Kerja sama, ketenangan berpikir, dan pantang menyerah mampu mengalahkan rintangan sebesar apa pun. Di balik perjuangan, keluarga dan kebersamaan adalah sumber kekuatan yang sesungguhnya.”
