Di balik pintu kayu yang mulai berderit,
Ada sebuah dunia yang kini makin sempit.
Dahulu, ia adalah jantung yang berdegup kencang,
Tempat ribuan pikiran datang untuk bertandang.
Kini, hanya ada sunyi yang memeluk debu,
Pada deretan buku yang mulai membisu.
Aroma kertas tua yang dulu sangat dipuja,
Kini menguap pelan, tertelan dinginnya meja.
Jendela besar itu masih di sana,
Menangkap sinar matahari yang jatuh merana.
Menyoroti kursi-kursi yang tak lagi berpenghuni,
Menunggu sapaan yang tak kunjung kembali.
Dunia telah berpindah ke layar yang berkilau,
Meninggalkan lorong-lorong ini dalam galau.
Tak ada lagi bunyi lembaran yang dibalik perlahan,
Hanya keheningan yang tersisa di sudut rungan.
Wahai gudang ilmu yang kini kian sunyi,
Engkau adalah saksi dari mimpi yang bersembunyi.
Menanti jejak langkah yang rindu akan ketenangan,
Di antara kata-kata yang tersimpan dalam kenangan