Persahabatan di balik pintu perpustakaan

Di balik pintu perpustakaan 

 

bau kertas tua dan pembersih lantai adalah saksi bisu kami. Saat itu, matahari sedang terik-teriknya di lapangan SD, tetapi aku lebih memilih pergi ke teras perpustakaan sdku yang lumayan sejuk.

 

Di sana, aku melihat seorang anak perempuan yang sedang menggambar sendirian di teras perpustakaan itu.

 

aku ingin mengajaknya untuk berkenalan tetapi ada sesuatu yang mengganjal di diriku yaitu rasa “pemalu”.

 

Dia sangat fokus dengan gambaran nya sedangkan aku, berusaha untuk menghilangkan rasa tidak kepercayaan diri ku untuk berkenalan dengannya.

 

Tak berselang lama kemudian aku mulai mengumpulkan kepercayaan diri ku dan mulai berjalan menuju anak perempuan itu dengan sedikit ragu.

 

aku mulai mengajaknya untuk berkenalan dengan suara yang sedikit ragu untuk menyapanya.

 

“Eh, halo nama kamu siapa?” tanyaku ragu.

 

Anak itu mendongak. Matanya bulat “oh namaku naumy, nama kamu siapa?”

 

“Azizah, kok kamu sendirian di sini knpa ga sama teman temanmu? ” Tanyaku 

“Soalnya aku lebih suka sendiri di tempat yang tenang daripada di tempat yang ramai” jawabnya.

 

“oh aku boleh duduk disini bareng kamu gak?” tanyaku ragu “boleh boleh saja” jawabnya.

 

Itulah jawaban dari segalanya. Di depan perpustakaan itu, sebuah “persahabatan” tanpa tanda tangan resmi dimulai.

 

Masa merah putih yang berisik 

 

Sepanjang SD, jika ada aku, pasti ada naumy. Kami adalah pasangan tetap di kantin, teman beda kelas yang sering memberi semangat satu sama lain.

 

Hingga aku menjadi “Azizah” yg mulai menjadi pemberani walupun terkadang mempunyai ide gila bagi Naumy, sementara Naumy adalah si pemikir yang seringkali mengerem ambisinya bagiku.

 

Kami tumbuh bersama di antara bekal makanan yang saling ditukar dan kami juga mempunyai cita-cita yang sama yaitu ingin menjadi seorang dokter.

 

Kami jelas memiliki hobi yang berbeda hobi nya adalah menyanyi dan menggambar sedangkan, aku memiliki hobi yang suka menulis puisi,pidato,atau dongeng.

 

Badai dan jarak

 

Persahabatan tidak selalu seperti pelangi. Ada masa masa di kls 6 ketika ego kami mulai tumbuh. Kami sempat tidak berbicara selama 3-4 hari hanya karena masalah sepele.

 

Walaupun saat ego kami mulai tumbuh, kami tetap selalu bersama sama, saat kami sedang bertengkar rasanya tak bisa terlalu berlama-lama karena seperti ada yang berbeda di saat kami sedang bertengkar.

 

Hingga datang pada tanggal 15 juli 2025 setelah perpisahan sekolah , kami dipisahkan oleh kota yang berbeda karena dia melanjutkan sekolahnya di pondok sedang kan aku melanjutkan sekolahku di SMP. Walaupun terasa sangat berat dan sedih, kami tetap menjalin hubungan persahabatan kami seperti biasa.

 

Hingga kami membuat janji disaat lulus sekolah nanti kami akan masuk kuliah dan universitas kedokteran yang sama.

 

Sekarang: Dewasa yang berbeda, Rasa yang sama

 

Setiap Naumy pulang dari pondok pesantren ia tak lupa memberi kabar kepadaku. Terkadang kami berbagi cerita keseharian kami lewat video call. 

 

“Mi, ingat ga dulu pertama kali kenal di depan perpus? kamu kelihatan pura pura pengen sendirian padahal pengen ditemenin” godaku 

 

“Ingat dong, dulu juga kamu malu-malu kucing mau kenalan sama aku yakan” jawabnya kami pun tertawa bersama sama.

 

Kami menyadari satu hal: banyak orang datang dan pergi dalam hidup kami seperti tamu di hotel. Namun, persahabatan ini terasa seperti rumah. Tidak peduli seberapa jauh kami melangkah, kami selalu tahu ke mana harus pulang.

 

Dari depan perpustakaan SD hingga sekarang, aku dan Naumy bukan lagi sekadar dua nama. Kami adalah kumpulan memori yang terus bertambah setiap harinya. 

By: Azizah afina

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Artikel Terkait

    Program Literasi

    Program Gerakan Literasi Sekolah SMPIT AL-UKHUWAH No Nama Program Tujuan Pembuktian Deskripsi 1. Duta Literasi Sebagai penggerak literasi sekaligus menjadi inspirasi bagi siswa lainnya Terciptanya beberapa karya Merupakan sekelompok siswa yang dibentuk untuk mengembangkan literasi di sekolah 2. Bengkel Sastra Wadah untuk mengembangkan minat dan bakat siswa terhadap Sastra Indonesia (Prosa, Puisi, Drama) Pagelaran Sastra

    Baca selengkapnya...

    Karya Literasi

    Buku Antologi Cerpen “Terlihat Susah, tapi Bismillah! Jilid 1” Buku Antologi Cerpen “Terlihat Susah, tapi Bismillah! Jilid 2” Buku Antologi Puisi “ Kertas Usang Demokrasi” Buku Antologi Puisi “Arahnya Ke Mana?” Buku Antologi Cerpen “Allah Tahu Kamu Lelah Jilid 1” Buku Antologi Cerpen “Allah Tahu Kamu Lelah Jilid 2” Buku Antologi Puisi “Mencari Sembuh” Buku

    Baca selengkapnya...