Penyesalan seumur hidup
Saat pulang sekolah yang seharusnya ku bersantai menjadi pemakaman. Suara ambulans memenuhi kepalaku, membuat ku pusing. Berjalan sempoyongan ke arah rumah yang terlihat ramai. Kulihat wanita paruh baya tertutup kain putih, Tak lain itu ibuku. Rasa sedih, menyesal, kecewa, dan bingung bercampur aduk. Ku pukul, ku tampar, wajah ini berharap semua hanya mimpi, tapi sayang itu nyata.
Menyesal ku tak temani dia di saat terakhirnya. Pikiranku kembali di saat pagi hari..
***
Hai aku dirgantara chandra. Aku anak tanpa ayah. Ayah ku meninggal saar aku berusia 4 tahun. Kini hanya tinggal bersama ibu di gubuk tua. Walaupun begitu aku masih semangat untuk menuntu ilmu, serta membantunya berkerja menjadi pembuat kue. Aku bersekolah di SMP Bunga sari. Saat ini aku sudah kelas 9, yah sebentar lagi lulus dan aku harus lebih giat lagi belajar.
Pagi ini aku bangun terlambat, jam sudah menunjukan pukul 06.05 yang berarti bangun kesiangan. Bergegas aku menuju kamar mandi dan bersiap. Setelah selesai aku harus bernagkat terburu buru. Namun, makanan buatan ibu sudah tersedia di meja makan. Karna waktu tidak mendukung, akhrinya aku berangkat sekolah seraya berteriak ” aku berangkat bu” kepada ibuku.
Ibu pun keluar dari kamarnya, melihat makanan untuk ku tak di makan, ibu pun berlari hendak mengejar ku. “Nak makan dulu” suara ibu yang terdengar dari jauh. Aku pun membalas “tak usah buk nanti aja las pualng sekolah, sekarang dah lambat” ucap ku. Ibu pun kembali dengan perasaan cemas, sambil membawa sepiring nasi beserta lauk pauk yang di masaknya tadi pagi.
Saat sampai sekolah gerbang sudah tertutup. Tapi aku tetap di bolehkan masuk, dengam syarat mendapat hukuman ambil sampah. Setelah itu aku cepat cepat berlari menuju kelas. Akhirnya aku sampai dengan napas terengah engah. ” Dirgantara chandra!” Suara bu guru dengan nada agak berteriak. Bu guru pun tetap membolehkan ku masuk tapi dengan syarat ini yang terakhir gak boleh lagi. Tak apa itu bukan salah bu guru tapi salah ku yang bangun kesiangan.
Di jam pelajaran ke -3 pada hari senin, yaitu MTK. Aku diminta menjawab soal di papan tulis putih yang telah penuh coretan. Saat sedang mengerjakan tangan ku menjadi gemetar hingga membuat spidol jatuh. Entah kenapa perasaan tidak enak dalam hati ku.
***
••Di rumah••
” Kenapa anak itu tak makan saja dulu ” ucap ibu. Dengan langkah lelah sehabis mengejar chandra. Berjalan menuju dapur dengan langkah kaki sempoyongan. Tanpa anak itu tau ibunya menderita sama akut. Ibu pun mencoba mengambil obatnya di lemari dapur namun na’as, nasib ibu tak begitu baik. Ibu terjatuh karna licin, kepalanya menghantup ujung meja kompor. Namun dia masih memikirkan apa yang terjadi pada chandra jika ia tak ada. Dengan kepala bercucur darah dengan napas yang makin berat. Ia tetap menulis surat, menyiapkan semua tabungan nya untuk chandra, masih mencoba tuk menghidangkan masakan terakhirnya untuk chandra. Setelahnya ia sangat berterimakasih lada tuhan masih memberinya waktu tuk menyiapkan semua nya. Tepat saat itu juga napas terakhirnya pun berhembus. Menutup mata tuk selamanya, dengan wajah tersenyum dia pergi meninggal kan dunia dengan tenang. Bu yati tetangga nya hendak meminta daun bawang. Di ketuklah pintu usang itu. Ketukan pertama tak ada jawaban. Ketukan ke dua mulai khawatir. Dengan keberanian bu yati membuka pintu itu, menyaksikan tetangga nya yang ramah telah pergi tuk selamnya. Dengan sigap ia memanggil ambulans. Dan tetap ibu suri(nama ibu chandra) tak dapat di selamatkan. Warga warga berkumpul untuk membantu.
***
Jam pelajaran hampir usai aku dipanggil oleh guruku. Aku diminta untuk pulang sekarang di temani dengan insya (anak bu yati) yaitu teman baiknya. Mereka pulang dengan perasaan bingung. Saat sampai di dekat rumah aku lihat bendera kuning berkibar di dekat rumah ku. Dengan perasaan tak enak memenuhi hati aku mempercepat langkah. Sampai nya ku di depan rumah ku lihat Ambulans terparkir. Suara sirine bernada sedang memebawa mayat, memekakan telinga ku. Aku bergegas berlari menuju kerumunan orang yang terus memanjatkan doa dan lantunan surah yasin. Ku tatap seorang wanita paruh baya terbaring dengan ditutupi kain putih dari leher sampai kaki dengan wajah di tutup kain jarik pendek. Rasa khawatir makin menyelimuti ku. Angin bertiup membuat wajah wanita itu terlihat. Ku lihat dengan seksama wajahnya, betapa terkejutnya diriku melihat wanita itu adalah ibu. Pukulan, tamparan ku lontarkan pada wajahku. Berharap ini mimpi buruk yang tak kan terjadi, namun takdir berkata lain ini semua nyata. Insya yang melihatku mencoba mengehentikan. Mencoba menghibur dan menenangkan ku. Tapi suaranya pun hilang dalam benakku. Yang ku pikirkan hanya penyesalan tak berati. Yaitu, Tak ada lagi ibu yang terus menghibur ku. Tak ada lagi yang terus menyemangati ku. Memasakan ku saat pagi. Bahkan ibu belum melihat ku wisuda. Penyesalan selalu datang di akhir. Andai aku makan masakannya sebelum berangkat tadi pagi….
***
Pemakaman telah selesai kerabat dan saudara pulang ke rumah masing masing. Aku duduk di meja makan, tempat yang dulu adalah buku kenangan. Di situ lah aku berbicara nyaman dengan ibu. Tapi kini dia tlah pergi. Di seberang meja makan itu ada sebuah sepiring masakan ibu. Piring itu penuh dengan nasi beserta lauk pauk. Masakan terakhir ibu. Ku makan itu dengan bercucuran air mata yang tak henti mengalir. Di saat menikmati hidangan terkhir ibu aku melihat sebuah kertas dengan uang di bawahanya. Dengan mata yang bengkak aku ambil kertas itu.
~isi kertas~
Nak kalau kamu sudah baca ini artinya ibu sudah tidur ya. Jangan sedih memang malang tak berbau. Maaf ya nak ibu ndka bisa lihat kamu wisuda, ndak bisa nemani kamu di saat bahagia mu. Ibu minta maaf sekali meninggalkan kamu sendiri di rumah. Tapi nak ibu akan selalu mendoakan kamu, walaupun ibu telah menjadi jasad, doa ibu selalu menyertai mu dalam melakukan apa pun. Disana ibu hidup sehat dan bahagia. Kamu jangan bersedih terus nanti ndak fokus belajarnya nak. Jangan mencuri ya itu ada uang tabungan ibu, kamu pakai saja. Ingat tidakapa apa kita hidup miskin yang penting halal. Waktu ibu hampir habis di dunia. Selamat tingal nak, jangan pernah merasa sendiri. Karna ibu selalu mendampingi.
***
Setelah membaca surat itu, air mata tak henti henti nya mengalir. Rasa sedih kian menyelimuti ku. Kucerna semua masalah tadi pagi. Memang yang salah itu aku karna bangun telat. Andai aku bangun pagi dan makan masakan ibu, ia masih di sini… Malam yang panjang ku menangis sangat lama. Dalam 1 hari semua telah berubah semua. Tanpa sadar aku tertidur dlam kesedihan. Mimpi ku hanya kengan ku bersama ibu.
••pagi hari••
Aku terbangun, cahaya matahari menyoroti ku dari lubang lubang rumah. Aku tertidur di meja makan aku pun cepat cepat bangun dan bersiap. Menyiap kan bekal karna tak ada lagi yang bersiap memasakan ku. Aku telah siap tuk pergi sekolah. Dan menjalani hidup dalam kesendirian tanpa sosok ibu dan ayah.
••5 tahun kemudian••
“Permisi tuan chandra mau lewat, jangan menghalangi jalan” ucap sekretarisku. Ya aku menempuh hidup baru dan berkerja lebih keras aku menikahi insya serta memiliki 2 orang anak. Dan menjadi pemilik perusahaan stindra. Pabrik parfum ternama di negara swiss. Yah aku pindah negara, aku takut teringiang ngiang dalam kesedihan. Tapi walau pun jarak yang jauh, aku mengunjungi ibu dan ayah tiap 1 bulan 2 kali. Rumah di desa ku jadikan rumah antik dengan pembantu di sna, dengan syarat boleh tinggal tapi tidak boleh di ubah sedikit pun. Kini aku sukses, karna perjuangan ayah dan ibu. Aku bisa membahagiakan mereka berdua. Aku yakin mereka tersenyum di atas sana. Ibu Ayah aku sukses disini, andai kalian masih ada disini aku akan lebih bahagia. “Ayah ayo makan” teriakan gadis kecil membuat ku sadar dari lamunan, tak lain itu anak ku bersama insya. Namanya liana. Aku pun masuk dan menikmati hidup dengan keluarga hangat ku….
~ The End
Itulah kisah dirgantara chandra, yang memiliki penyesalan seumur hidup dan kini dia tak pernah lupa sarapan sebelum pergi berkerja. Terimakasih dari saya karena telah membaca. *Mengingatkan ini konten fiksi bukan kejadian nyata*
Karya:’Asa Nayla z.r.a
