“Menutupi luka, maaf aku tidak bisa”

“Menutupi luka, maaf aku tidak bisa” 

By: Meliani Annisa 

 

Alarm berbunyi membangunkan seorang gadis, ia pun mematikan alarmnya, Ia pun melirik jam yang menunjukkan jam 05.00 pagi.

“Eh… udah jam 5 aja”

Ujar gadis itu dengan suara serak akibat bangun tidur. Ia pun bangkit dari tempat tidurnya lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya. Beberapa menit kemudian ia selesai membersihkan diri lalu bersiap untuk sekolah. 

“Halo Dunia, hari hari yang biasa kulakukan aku datang”

Gadis itu pun keluar dari kamarnya, tiba tiba ibu memanggil nya.

“Rayya!”

Yap gadis itu bernama Rayyanza Aksara Dirgantara yang kerap dipanggil Rayya, dia kelas 2 SMA, pendiam dan takut bersosialisasi meskipun sekarang ia sudah mencoba terbuka dengan masyarakat. 

Rayya pun turun menemui ibunya.

“Ada apa Bu?”

Ucapnya sambil berjalan mendekatinya.

“Seperti biasa ya, beli makan di sekolah”

Jawab ibunya dengan nada santai, untung nya Rayya sudah terbiasa dengan hal itu dikarenakan ibunya terlalu sibuk mengurusi 2 adik laki lakinya, sedangkan ayah Rayya selalu sibuk pekerjaan kantor hingga tak pernah meluangkan waktu untuk Rayya, ibu, dan adik adiknya. 

“Baiklah”

Jawab Rayya sambil berjalan pergi mengambil tas dan berangkat sekolah. Ia menaiki motornya menuju sekolah, sesampainya disana ia langsung berjalan menuju kelasnya berharap 3 orang yang ia tidak ingin lihat hari ini tak menghalanginya. Namun sayangnya, mereka menghadang Rayya, seperti biasa mereka pasti ingin meminta PR Rayya.

“Eh liat nih ada anak sok pintar datang”

3 siswi itu bernama, Nora, Laura, dan Rina.

“A-apa mau kalian!”

Ucap Rayya dengan gugup, sedari kelas 1 SMA, Rayya sering di bully oleh mereka. Meskipun Rayya sudah selalu melawan tapi mereka malah menjadi jadi.

“Seperti biasa hehehe”

Ucap Rina dengan sinis sedangkan Laura dan Nora sudah bersiap mengambil paksa tas Rayya.

“Aku tidak mau! Aku sudah sering berikan jawaban ke ka-”

Sebelum Rayya menyelesaikan perkataannya, mereka menarik paksa tas Rayya dari tangannya dan mengambil buku PR Rayya.

“Bye pecundang!”

Mereka pun berlari meninggalkan Rayya yang terdiam melihat isi tas nya yang berhamburan. Rayya pun menghela nafas dan mulai memasukkan kembali semua isi tasnya lalu, berjalan pergi ke kelas. 

Saat Rayya sampai ia langsung menaruh tasnya dan pergi menghampiri 2 teman di luar kelas, Hana dan Asa.

“Yoo, Rayya kau kenapa?”

Tanya Hana dengan nada yang santai, sedangkan Asa menghela nafas.

“Seperti biasa mereka bertiga mengambil PR-ku lagi”

Ujar Rayya dengan kesal. 

“Hah? Siapa?”

Tanya Asa dengan ekspresi bingung.

“Kau sudah pikunnya?

Ucap Rayya dengan kesal.

‘Reaksi Asa: 

                   

‘Reaksi Rayya: 

                       

“Ingat kok hehehe”

Ucap Asa. 

“Ya ya”

Jawab Rayya sambil memutar bola matanya. Bel masuk berbunyi, Asa, Hana, Dan Rayya pun pergi ke kelas. 

Skip saat pembelajaran 

Bel istirahat berbunyi.

“Yeah! Akhirnya istirahat”

Ucap Rayya. 

“Yoi, tadi pas di suruh ngumpulin PR aku hampir panik, ku kira aku lupa bawa PR”

Sahut Hana sambil menghela nafas lega.

“Wkwkwk kau seharusnya melihat wajah mu saat Panik tadi”

Ucap Asa sambil menahan tawanya. Hana pun kesal karena Asa. Sedangkan dalam hati Rayya. 

‘apalagi aku, untung saja aku menyalin PR-ku tadi malam karena pasti trio pembully itu mengambil PR-KU’

Tiba tiba ada tangan yang menepuk bahu Rayya, alhasil Rayya tersadar dari lamunannya.

“Eh… iya apa?”

Ucap Rayya dengan bingung.

“Kau kenapa dah?”

Tanya Hana bingung ada apa dengan Rayya, sedangkan Asa juga ikut bingung dengan kelakuan Rayya.

“Nggak apa-apa kok”

Jawab Rayya sambil mengusap belakang lehernya.

“Kalau mau cerita, cerita sama kita ya”

Jawab Asa dengan khawatir.

“Ya…”

Jawab Rayya dengan ekspresi sedikit bimbang.

Skip waktu sekolah.

Bel pulang pun berbunyi, Asa dan Hana pun berpamitan dengan Rayya.

“Bye Ray, sampai besok!!”

Ucap kedua nya sambil pergi meninggalkan Rayya sendirian.

“Bye…”

Rayya pun berjalan lagi pulang. Di pertengahan jalan pulang, Rayya dihadang Nora. Muka Nora seperti kesal.

“Ada ap-”

Nora tiba menjambak rambut Rayya, Lalu Nora melepaskan Rayya dan menyiramnya dengan air kotor. Rayya pun tersentak karena air kotor itu. Ia langsung menatap Nora. 

“Apa apaan in-”

Rayya malah langsung di siram berkali kali dengan air kotor.

“Hahaha, kamu memang pantas dapat itu, sudah lah culun, pembawa sial, Nggak tau diri lagi, gak berguna haha”

Nora pun berhenti menyiram Rayya dan langsung menumpahkan tepung ke tubuh Rayya lalu pergi meninggalkan Rayya sendirian di gang kecil itu.

“Huft, kuat kuat Ray…”

Ucap Rayya menguatkan dirinya, Rayya pun langsung berdiri dan pergi pulang melewati gang yang sepi agar tidak ada yang lihat ia dalam keadaan seperti itu. Sesampainya dirumah Rayya segera masuk ke kamar mandi, cepat cepat ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri nya, selang beberapa menit kemudian Rayya keluar dan sudah bersih. Ia pun menuju kamarnya dan menguncinya.

“Aku capek… tapi mau cerita aja aku gak kuat, aku ingin tetap kuat di mata mereka”

Ucap Rayya sambil menahan tangisnya. Ia berusaha tapi ia tak kuat dan mulai menangis dalam diam.

“Aku bukan pembawa sial, aku hanya anak biasa, kenapa!? Aku hanya ingin hidup bahagia, aku ingin bahagia tapi itu susah seperti semua itu mustahil! Aku mau pulang tapi nggak tau pulang kemana…” 

Rayya menutup kedua telinganya. Selama ini ia trauma dengan semua pembullyan yang dilakukan terhadapnya, ia mulai menyakiti dirinya sendiri, menyebabkan luka di tubuhnya. Ia mulai panik tanpa sebab menangis dalam diam, orang tua nya tidak peduli dengan keadaan mental nya. Ia hanya seorang anak yang tidak punya arah pulang, yang menghadapi dunia dengan tubuhnya yang rapuh dan berusaha terlihat tetap kuat meskipun sudah dibanting berkali kali. 

Keesokan harinya ia bangun dan melihat dirinya di cermin, tubuh yang sudah terluka, luka baru menggantikan luka lama yang bahkan luka lama itu saja belum sembuh.

Saat di sekolah Hana dan Asa pun akhirnya tak kuat dan bertanya pada Rayya.

“Ray, kau gak apa apa kan?”

Tanya mereka berdua yang khawatir pada kondisi Rayya, ia pun menjawab.

“Ya… aku gak apa hehehe “

Rayya menjawab mereka padahal jawaban hanya sebuah kebohongan. Hana dan Asa tidak mau percaya dan terus bertanya hingga Rayya muak.

“HENTIKAN! KALIAN ITU KALAU AKU NGOMONG NGGAK APA YA GAK APA!”

Rayya pergi dengan emosi dan sedikit rasa bersalah karena membentak kedua orang temannya.

 Hari harinya yang ia lalui makin kacau balau. Makin lama ia makin tak semangat. Ia makin sering di bully, makin dibikin hancur, ia mau cerita tapi takut di hakimi, Hana dan Asa juga ingin tahu tapi mereka tidak akan memaksa Rayya bercerita. Rayya capek secara fisik maupun mental dan dihancurkan beberapa kali. Hingga suatu hari ia tak kuat, merasa lemah, selalu di bully meskipun melawan, tak kuat menahan luka dan kesedihan nya, ia pun berjalan menuju jembatan dermaga kayu di Sungai. 

“Sampai disini saja”

Rayya pun membuka sepatu nya. Rayya melepaskan jaket dan ikat rambut nya. Ia pun menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan lahan. 

“Akhirnya, makasih…”

Rayya pun melompat dari situ. 

 

Sebenarnya sungai itu dangkal, airnya hanya selutut nya.

“Makasih dunia ku!! Aku senang bisa sendiri setelah semua Stres!!”

Rayya sering ke sungai saat ia sudah stres berat, ia pasti main air untuk menenangkan diri. Beberapa hari kemudian Rayya terus berusaha semangat, melawan rasa takutnya, dan melawan orang yang membully nya dengan cara mengukir prestasi. Rayya juga gak pernah lupa beribadah kepada tuhan yang maha esa. Guru BK mengetahui aksi pembullyan yang dilakukan oleh Nora, Laura, dan Rina, mereka dihukum oleh Guru BK dan dikeluarkan dari sekolah karena pembullyan, dan ternyata mereka memang sudah seringkali membuat ulah yang bisa mencoret nama baik sekolah. Akhirn

ya ia merasakan bagaimana rasanya bahagia dan bersyukur dengan kehidupan yang ia jalani.

 

Tamat

Pesan yang di ambil adalah, terus lah berusaha buktikan bahwa kamu bisa dengan kemampuan mu sendiri, jangan berhenti berusaha meskipun dunia membanting mu, jika ada masalah juga cerita lah pada orang yang tidak akan menghakimi mu cerita semua masalahmu pada orang yang kau anggap rumah.

 

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Artikel Terkait

    Program Literasi

    Program Gerakan Literasi Sekolah SMPIT AL-UKHUWAH No Nama Program Tujuan Pembuktian Deskripsi 1. Duta Literasi Sebagai penggerak literasi sekaligus menjadi inspirasi bagi siswa lainnya Terciptanya beberapa karya Merupakan sekelompok siswa yang dibentuk untuk mengembangkan literasi di sekolah 2. Bengkel Sastra Wadah untuk mengembangkan minat dan bakat siswa terhadap Sastra Indonesia (Prosa, Puisi, Drama) Pagelaran Sastra

    Baca selengkapnya...

    Karya Literasi

    Buku Antologi Cerpen “Terlihat Susah, tapi Bismillah! Jilid 1” Buku Antologi Cerpen “Terlihat Susah, tapi Bismillah! Jilid 2” Buku Antologi Puisi “ Kertas Usang Demokrasi” Buku Antologi Puisi “Arahnya Ke Mana?” Buku Antologi Cerpen “Allah Tahu Kamu Lelah Jilid 1” Buku Antologi Cerpen “Allah Tahu Kamu Lelah Jilid 2” Buku Antologi Puisi “Mencari Sembuh” Buku

    Baca selengkapnya...