Mengukir Jejak di Kanvas Dua enam
By : Vivi Sulfiani
Kalender baru menjelma buku tanpa aksara, menanti jemari menuliskan takdirnya.
Di hamparan kertas putih, mimpi kita semai.
Harapan bak embun di pucuk daun
Sederhana, namun menghidupkan jiwa yang haus.
Lonceng waktu tak lagi sekadar berdenting,
Ia mengetuk pintu hati yang sempat hening.
Satu Januari dua ribu dua puluh enam telah tiba,
Membawa aroma tanah basah dan janji semesta.
Kita bukan lagi orang yang sama dengan tahun lalu,
Luka-luka kemarin telah menjelma menjadi sisa abu.
Di atas kanvas dua enam ini, kita tanam benih percaya,
Bahwa hari esok takkan lagi terasa sia-sia.
Ini bukan sekadar angan yang terbang,
Ia adalah akar yang menancap kuat saat badai menerjang.
Kita tak meminta jalan yang selalu rata dan lurus,
Hanya mengiba lapang yang tak bertepi dan daya yg tak henti menepi.”
Melangitkan harap, agar langkah kaki di tahun ini tenang dan tanpa luka.
Menjadi jejak yang teduh bagi insan di setiap sapa.
Menjadi setitik cahaya yang dititipkan di palung hati sesama.”
Setiap kesulitan adalah guru yang mendewasakan,
Setiap keberhasilan adalah amanah yang harus disyukurkan.
Dua ribu dua puluh enam, jadilah saksi yang nyata,
Mimpi-mimpi besar layak menjadi berita.
Melangkah di lorong waktu yang baru
Asaku di tahun ini, tawa lebih sering terdengar,
Membasuh lelah saat jalan terasa kian sukar
Inginku, di setiap rintangan yang berdiri di depan mata,
Hanyalah anak tangga menuju puncak kasta.
Bengalon, 1 Januari 2026