Berbagai ucapan doa di panjatkan,
dalam ruang yang sunyi.
Jantungnya berdetak,
namun membuat gelisah.
Kelopak matanya sering kali terbuka,
menatap dengan pandangan kosong tak bercahaya.
Tubuhnya merespon,
meninggalkan secercah harapan.
Raganya masih ada,
akan tetapi jiwanya telah menghilang.
Tuhan merenggut nya dari dunia ini,
tak satu pun yang mengetahui kecuali sang penguasa.
Jahat.
Sungguh jahat.
Ia pergi tanpa berpamitan,
meninggalkan kesedihan tak berujung.
Tuhan menunggunya datang bersama raganya,
rumah baru menantinya di atas sana.
Ia bebas dari penyakit yang merantai dirinya,
meski begitu, selalu ada ruang kosong di dunia ini,
menimbulkan sebuah lubang hitam yang menelan harapan.
—julia marantika putri.