Dunia mulai terasa lebih serius,
Ketika malam yang dihiasi tawa riang,
Tak terduga terganti oleh sunyi yang mengisi seluruh ruang.
Diantara gelap langit malam,
Diriku terdiam,
Memandangi sinar bintang,
Seolah sepercik cahaya terpancar melalui awan.
Udara dingin menusuk kulitku,
Menerjam jantungku.
Gelisah kembali menghantui benakku,
Menyita waktu tidurku.
Ketakutan pun hadir tanpa diminta,
Tak bisa ditolak meski terpaksa.
Aku mulai bertanya pada bayanganku yang terpantul dalam cermin,
Apakah aku mampu memenuhi semua harapan?
Harapan yang tak terucap,
Namun terasa berat dipundak.
Dua insan yang tak pernah menuntut,
Wajah lelah, dan keluhan yang dilontarkan setiap saat,
Seperti bayang bayang selalu mengiringi langkahku.
Mereka memberi cinta tanpa syarat,
Melantunkan doa setiap saat,
Mengobati luka yang tersayat.
Tetapi aku merasa terbebani,
Seolah berhutang budi.
Aku merasa seolah menjadi boneka yang diikat,
Lalu diletakkan pada jeruji besi.
Terkurung dalam narasi impian dan kenyataan yang tidak kunjung menemui titik temu.
Setiap malam terlalui,
Penuh rasa ragu dan takut.
Apakah aku mampu mencapai puncak,
Ataukah hanya akan terjatuh lagi dalam jurang kecewa?
Jika aku gagal,
Apakah aku akan bebas?
Ataukah akan kembali terkurung hingga lenyap?
Sungguh, doa orang tua layaknya cahaya pelita,
Menuntun aku melintasi jalan tanpa penerang,
Namun keraguanku masih menjadi penghalang.
Angan angan semu tampaknya tak akan menjelma nyata.
Dan, aku termenung lagi.
Dikucilkan kembali.
Ditengah riuh pikuk ombak kehidupan yang tak sudi meredakan kegelisahan.
Aku terombang ambing mencari jalan keluar.
Dari jauh tawa merekah mengalun merdu di telingaku,
Disini aku gemetar menahan sesak di dada yang terlalu lama terpendam.
by: Faradisa Salsabila A.