Boneka Diri

Dunia mulai terasa lebih serius, 

Ketika malam yang dihiasi tawa riang, 

Tak terduga terganti oleh sunyi yang mengisi seluruh ruang. 

 

 

Diantara gelap langit malam,

Diriku terdiam, 

Memandangi sinar bintang, 

Seolah sepercik cahaya terpancar melalui awan. 

 

 

Udara dingin menusuk kulitku, 

Menerjam jantungku. 

Gelisah kembali menghantui benakku, 

Menyita waktu tidurku. 

 

 

Ketakutan pun hadir tanpa diminta, 

Tak bisa ditolak meski terpaksa. 

Aku mulai bertanya pada bayanganku yang terpantul dalam cermin, 

Apakah aku mampu memenuhi semua harapan? 

 

 

Harapan yang tak terucap, 

Namun terasa berat dipundak. 

Dua insan yang tak pernah menuntut, 

Wajah lelah, dan keluhan yang dilontarkan setiap saat, 

Seperti bayang bayang selalu mengiringi langkahku. 

 

 

Mereka memberi cinta tanpa syarat, 

Melantunkan doa setiap saat, 

Mengobati luka yang tersayat.

Tetapi aku merasa terbebani, 

Seolah berhutang budi. 

 

 

Aku merasa seolah menjadi boneka yang diikat, 

Lalu diletakkan pada jeruji besi. 

Terkurung dalam narasi impian dan kenyataan yang tidak kunjung menemui titik temu. 

 

 

Setiap malam terlalui, 

Penuh rasa ragu dan takut. 

Apakah aku mampu mencapai puncak, 

Ataukah hanya akan terjatuh lagi dalam jurang kecewa? 

 

 

Jika aku gagal, 

Apakah aku akan bebas? 

Ataukah akan kembali terkurung hingga lenyap? 

Sungguh, doa orang tua layaknya cahaya pelita, 

Menuntun aku melintasi jalan tanpa penerang,

Namun keraguanku masih menjadi penghalang. 

 

 

Angan angan semu tampaknya tak akan menjelma nyata. 

Dan, aku termenung lagi. 

Dikucilkan kembali. 

Ditengah riuh pikuk ombak kehidupan yang tak sudi meredakan kegelisahan. 

Aku terombang ambing mencari jalan keluar. 

Dari jauh tawa merekah mengalun merdu di telingaku, 

Disini aku gemetar menahan sesak di dada yang terlalu lama terpendam.

 

by: Faradisa Salsabila A.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Artikel Terkait

    Program Literasi

    Program Gerakan Literasi Sekolah SMPIT AL-UKHUWAH No Nama Program Tujuan Pembuktian Deskripsi 1. Duta Literasi Sebagai penggerak literasi sekaligus menjadi inspirasi bagi siswa lainnya Terciptanya beberapa karya Merupakan sekelompok siswa yang dibentuk untuk mengembangkan literasi di sekolah 2. Bengkel Sastra Wadah untuk mengembangkan minat dan bakat siswa terhadap Sastra Indonesia (Prosa, Puisi, Drama) Pagelaran Sastra

    Baca selengkapnya...

    Karya Literasi

    Buku Antologi Cerpen “Terlihat Susah, tapi Bismillah! Jilid 1” Buku Antologi Cerpen “Terlihat Susah, tapi Bismillah! Jilid 2” Buku Antologi Puisi “ Kertas Usang Demokrasi” Buku Antologi Puisi “Arahnya Ke Mana?” Buku Antologi Cerpen “Allah Tahu Kamu Lelah Jilid 1” Buku Antologi Cerpen “Allah Tahu Kamu Lelah Jilid 2” Buku Antologi Puisi “Mencari Sembuh” Buku

    Baca selengkapnya...