Biola Lisa

Biola Lisa 

By : Aldilla Feby

 

Aku melangkah keluar rumah dengan tas berisi biola kesayangan yang berat—bukan karena kayu, tapi karena semua harapan yang kutumpuk di dalamnya. Embun masih menempel di rumput, dan aroma kopi dari dapur menguar perlahan, menandakan hari belum sepenuhnya terjaga. Aku menatap genangan air di hadapanku sambil menerka-nerka akan terlihat seperti apa kuncir dua ku di panggung nanti. 

 

Jalan menuju studio milik salah satu temanku agak berliku dengan lubang-lubang di antara aspalnya, pohon‑pohon rindang membuat suasana pagi hari ini terasa tenang —walaupun nada hatiku masih berdegup kencang karena audisi yang akan ku lalui hari ini— langkahku berbunyi seperti metronom yang mengukur setiap tempo yang ku lalui.

 

Ketika pintu studio terbuka, dentingan piano latihan mengalir, tapi tiba‑tiba rasa kosong menyeruak: biolaku tidak ada di tas tepat 45 menit sebelum audisi. Panik mengalir seperti akor minor yang tiba‑tiba berubah, membuat hatiku berdegup lebih kencang. Aku memutuskan untuk meninggalkan studio dan membatalkan latihan. 

“Lisa! Woy mau kemana?! Katanya mau latihan sebelum audisi?” Kata Adit.

“Ituuu!! Biolaku ketinggalan!! Aku nanti langsung gas ke taman aja! Kalian latihan duluan sana!!” Kataku dengan nada panik.

“Emang gitu dia dari SD, udah SMA masih aja gitu, ga berubah!” Kirana ikut bicara. 

 

Aku bersepeda kembali ke rumah, menembus udara dingin yang menusuk kulit. Biola itu sangat penting bagiku, bagaikan orkestra yang memerlukan maestro, begitu juga aku dengan Biolaku, kami saling memerlukan.Tanpa Biolaku aku tidak bisa memainkan melodi-melodi indah dan memenangkan berbagai perlombaan.

 

Di teras, biolaku tergeletak di samping kursi—sebuah solo yang tertinggal tanpa orkestra— Dengan napas terengah‑engah, aku melanjutkan bersepeda ke taman tempat audisi itu dilaksanakan,karena terburu-buru aku tidak sempat memilih jalan yang tidak beresiko —terkena lumpur. Lumpur-lumpur berterbangan ke mana-mana —aku yakin sepatuku sudah di penuhi lumpur—terdengar suara MC yang sudah membuka acara beberapa blok dari taman yang kutuju. 

 

Di bawah pohon beringin, Aku memarkirkan sepedaku —dan melupakan betapa seramnya pohon beringin itu. Melodi dari alat musik memecah kerumunan orang, ada yang masih sibuk dengan pekerjaannya dan ada juga yang menikmati pertunjukannya.

 

Sambil menunggu giliran aku memerhatikan area sekitar—penjual balon sibuk dengan balon-balonnya yang terbang tertiup angin, ada anak yang menangis karena menjatuhkan es krimnya, dan dua temanku, Adit dan Kirana yang sedang jajan—sekarang tibalah giliran ku, aku melangkah ke panggung audisi, rambutku tetap terikat kuat sama kuatnya dengan tekadku, namun kini ada keyakinan dan keraguan yang mengalir di setiap gerakan.

 

 Setiap tarikan busur terasa seperti alur sungai yang tak terputus, menghubungkan setiap nada menjadi satu melodi yang utuh. Saat aku menutup penampilan dengan nada tinggi yang bersih, dan itu terjadi —Di detik itu rasanya ingin sekali aku menghilang dari aula— “putus, senarnya putus.” Terdengar samar-samar suara orang berbisik dari kejauhan “tamatlah aku, sudah tidak ada harapan lagi.” Hanya itu yang bisa kupikirkan.

 

Meskipun turunnya aku dari panggung diiringi oleh tepukan tangan para penonton tetap saja tidak membuatku merasa lebih baik. Rasanya ingin sekali aku mengulang waktu dan memperbaiki senar biolaku sebelum tampil tadi, “harusnya aku mendengarkan mama tadi”, —jangan tanya mama bilang apa kan aku tidak dengar, tapi kurasa ada kaitannya dengan mengecek biola, mungkin saja— penyesalan memang datang di akhir. 

 

Meskipun aku tidak menang disini setidaknya aku mendapat gelar juara harapan 2 —juara harapan 1 adalah seorang nenek yang membawakan lagu “Let It Go” dan di bagian yang memakai nada tinggi suaranya agak sumbang. 

 

Pada akhirnya seperti biasa, pada sore hari saat pulang aku mampir ke sungai dekat sini dan melepaskan kekesalan ku dengan cara berteriak sehingga membuat dua orang yang sedang mancing lari ketakutan karena mengira itu suara kuntilanak yang menjerit karena digigit kodok —aku masih tidak percaya suaraku di bilang mirip kuntilanak digigit kodok oleh dua temanku yang sedang mancing tempo hari— Meskipun begitu aku tetap merasa puas dengan apa yang aku capai. Hari itu ditutup dengan orkestra dari kodok-kodok parit yang bernyanyi memanggil hujan dan pantulan cahaya oranye dari matahari terbenam di sungai bagaikan lampu sorot yang menyoroti para kodok. Hari yang sungguh indah sekaligus memalukan bagiku.

 

———————————————————

Cerita ini di buat dengan sudut pandang orang pertama dan mengandung sedikit metafora musik

 

 Terima kasih karena sudah membaca

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Artikel Terkait

    Program Literasi

    Program Gerakan Literasi Sekolah SMPIT AL-UKHUWAH No Nama Program Tujuan Pembuktian Deskripsi 1. Duta Literasi Sebagai penggerak literasi sekaligus menjadi inspirasi bagi siswa lainnya Terciptanya beberapa karya Merupakan sekelompok siswa yang dibentuk untuk mengembangkan literasi di sekolah 2. Bengkel Sastra Wadah untuk mengembangkan minat dan bakat siswa terhadap Sastra Indonesia (Prosa, Puisi, Drama) Pagelaran Sastra

    Baca selengkapnya...

    Karya Literasi

    Buku Antologi Cerpen “Terlihat Susah, tapi Bismillah! Jilid 1” Buku Antologi Cerpen “Terlihat Susah, tapi Bismillah! Jilid 2” Buku Antologi Puisi “ Kertas Usang Demokrasi” Buku Antologi Puisi “Arahnya Ke Mana?” Buku Antologi Cerpen “Allah Tahu Kamu Lelah Jilid 1” Buku Antologi Cerpen “Allah Tahu Kamu Lelah Jilid 2” Buku Antologi Puisi “Mencari Sembuh” Buku

    Baca selengkapnya...