Di pagi hari, seorang remaja laki-laki, Mahesa seperti biasa ia pasti lari pagi setiap hari Minggu, biasanya ia lari pagi sendirian namun hari ini ia ditemani 2 temannya, Evan dan Husein.
“Hadeh masa dia lambat?”
Ucap Mahesa sambil melirik jam tangannya.
“Mung-”
Saat Husein ingin menjawab tiba tiba Evan memanggil mereka.
“Mahesa! Husein!!”
Panggil Evan sambil berlari mendekati mereka.
“Akhirnya kau datang juga Evan”
Ucap Husein sambil geleng-geleng kepala.
“Hehehe… Maaf aku lupa”
Ucap Evan sambil mengusap belakang lehernya.
“Ya sudah ayo kita mulai, pertama-tama Pemanasan dulu”
Mereka bertiga pun mulai pemanasan, beberapa menit kemudian mereka mulai lari pagi.
Mahesa, Husein, dan Evan mereka bertiga adalah siswa kelas 11 SMA. Mereka sudah berteman sejak SD orang tua mereka juga sangat akrab kadang-kadang liburan mereka habiskan bersama, apapun yang dilakukan pokoknya bersama. Beberapa menit kemudian mereka selesai lari pagi dan melakukan pendinginan.
“ capek banget bah!”
Ucap Evan sambil terengah-engah.
“ duduk dan luruskan kakimu Evan, lagi pula jika kau sering lari pagi ntar juga terbiasa”
Jawab Mahesa sambil memberikan botol air minum kepada Evan dan Husein. Beberapa menit kemudian mereka pulang ke rumah masing-masing.
“Bye!! Dua orang pintar”
Ucapan sambil pergi meninggalkan mereka berdua, Husein juga pergi sekarang tinggal Mahesa sendirian berjalan ke arah rumahnya. Di perjalanan ia melihat seorang anak yang sangat aktif, mudah bersosialisasi dan percaya diri.
“ melihat anak itu… Andai waktu bisa ku ubah, Aku ingin kembali menjadi pribadi yang mudah bersosialisasi bukannya malah menjadi introvert”
Ucap Mahesa mengingat masa lalunya di saat ia mudah bersosialisasi dan percaya diri tapi sekarang ia menjadi introvert, hanya punya dua teman dekat, dan yang paling parah ya takut pada tatapan orang-orang banyak.
Untungnya Sekarang dia sudah mulai membuka diri untuk mengenalkan dirinya kepada masyarakat meskipun masih sedikit gugup dan susah untuk bersosialisasi. Saat Mahesa mulai meninggalkan tempat itu anak itu menarik tangan Mahesa, Mahesa tentu kaget dan langsung berbalik untuk menghadapnya.
“A-ada apa”
Ucap Mahesa dengan gugup, anak itu pun memberikan Mahesa sesuatu…
“ Kakak bisa bantu aku nggak? Aku mau coba-coba pidato di depan mereka Jadi tolong video kan ya?”
Ucap anak itu sambil memberikannya HP-nya, awalnya Mahesa ingin menolak tapi anaknya itu terus memaksa hingga Mahesa akhirnya menerima dan membantu anak itu merekam video.
“ oke 1, 2, 3 mulai”
Anak itu mau memulai pidato tetapi tiba-tiba dia gugup seperti dia belum siap, Mahesa melihat itu dan mulai menyemangati anak itu. Anak itu melihat Mahesa yang menyemangatinya yang membuat anak itu menjadi semangat dan percaya diri ia mulai berpidato setiap pidatonya menurut Mahesa sudah bagus Mahesa mengingat saat ia kecil tak ada yang ingin mendengar pidatonya.
Beberapa menit kemudian anak itu selesai berpidato dan langsung mendekati Mahesa.
“Terima kasih Kakak sudah mau bantuin aku dan nyemangatin aku hehehe, kakak baik banget”
Ucap anak itu sambil tersenyum, Mahesa yang melihatnya pun ikutan tersenyum tipis.
“Ya… sama sama”
Mahesa pun mengelus kepala anak itu lalu ia berjalan pergi.
“ Bye kak!!!”
Ucap anak itu sambil Melambaikan tangan ke mereka.
Sementara itu, Husein berjalan menuju rumahnya, di tengah perjalanan ia melihat seorang anak kecil sedang menggambar bocah itu menggambar dengan serius.
“ bocah itu mengingatkanku… disaat aku menggambar dulu, gambaranku malah dibilang jelek dan norak, aku terus mencoba tapi hasilnya sama saja, gagal”
Tanpa Husein sadari anak itu mendekati Husein sambil menunjukkan gambarannya ke Husein.
Gambar yang dibuat anak itu meskipun terbilang masih biasa menurut Husein tapi untuk skill nya anak itu mulai menunjukkan Bakat jadi, alih-alih menghina gambaran anak itu Husein mengusap kepala anak itu sambil berkata.
“ Wah gambar kamu bagus banget, kamu Memang berbakat terus asal bakatmu ya hehehe”
Ucap Husein sambil mengusap anak itu, Husein tak ingin menyakiti hati mungil anak itu seperti yang pernah ia alami sewaktu kecil. Husein Mulai membantu dan mengajari anak itu.
“ Oh gitu Kak… uhm Makasih Kakak sudah mau ngajari aku”
Ucap anak itu sambil sedikit malu. Anak itu berdiri dan pergi meninggalkan Husein. Husein pun mengangguk dan berharap anak itu terus berlatih dan tidak mendapat hinaan. Semua kata-katanya yang ia Ucapkan adalah kata-kata yang pernah ia tunggu dan dambakan namun Ia hanya mendapat hinaan, Husein pun pergi menjauh.
Sementara itu Evan, Ia berlari sambil memegang kameranya.
“senangnya hatiku~”
Tiba-tiba Evan berhenti dan melihat seorang anak yang sedang memotret bunga. Anak itu seperti habis menangis, Evan pun mendekati anak itu tapi saat ia mendekatinya, anak itu langsung bersembunyi di balik pohon seperti ketakutan.
“ kakak pasti orang jahat kan!? Kakak pasti mau ambil kamera aku kan!?”
Ucap anak itu sambil bersembunyi jelas sekali anak itu takut kameranya diambil, sama persis yang pernah Evan alami. Evan Dulu sering diejek karena suka Fotografi, menurut beberapa orang, fotografi itu adalah hal yang konyol dan tidak ada gunanya, Tak banyak juga yang merasa tak nyaman. Evan pun duduk di samping anak itu dan menunjukkan kameranya. Anak itu jadi penasaran.
“ lihat nih Kakak punya juga kamera yang sama persis seperti punyamu”
Ucap Evan sambil memperlihatkan kameranya ke anak itu.
“ apa kau ingin melihat hasil foto yang kuambil?”
Anak itu Evan dengan ragu. Evan pun menunjukkan beberapa foto pemandangan yang ia potret beberapa hari yang lalu. Anak itu pun mulai tertarik dan kagum dengan foto yang ditunjukkan oleh Evan. Beberapa menit kemudian anak itu dipanggil ibunya untuk pulang.
“Bye kak… makasih “
Anak itu pun berjalan pergi menuju ibunya, Evan senang anak itu tertarik dengan hobi seperti itu lalu Evan berdiri dan berjalan pulang menuju rumahnya. Saat ketiganya sampai di rumah masing-masing dari mereka pun melakukan aktivitasnya masing-masing.
“Ck bosan banget! Chat Mereka aja deh”
Ucap Evan sambil membuka chat grup mereka.
Mahesa pun membuka grup kelasnya. Mahesa, Evan, dan Husein itu satu kelas. Saat dibuka ternyata cuma pemberitahuan lomba antar kelas, sayang tapi sayang ternyata wali kelas Mereka yang memilih siapa saja yang akan ikut lomba untuk perwakilan kelas. Dari sekian banyak siswa, Mahesa yang disuruh ikut lomba pidato.
“Kok aku sih…”
Sama halnya dengan dua temannya itu, Husein disuruh ikut lomba poster dan itu gambarnya tradisional. Sedangkan Evan juga disuruh ikut lomba fotografi.
“WHAT!? a-aku?”
Ucap Husein.
“ ALAMAK, kenapa aku!?”
Ucap Evan sambil pegang kepalanya.
Keesokan harinya saat di sekolah, saat pelajaran matematika. Meskipun Mahesa, Evan, dan Husein bilang bahwa mereka itu tidak suka matematika tapi tetapi nilai mereka itu cukup tinggi dalam bidang pelajaran matematika. Saat istirahat berlangsung.
“ banyaknya PR matematika tadi”
Ucapkan sambil memegang pelipisnya.
“ Iya sih tapi, dikumpul kapan?”
Tanya Husein sambil mencoba mengingat kapan PR itu dikumpul.
“ sama aja aku lupa”
Ucap Evan yang sama lupa nya dengan Husein. Husein dan Evan sama pelupa tetapi giliran uang saja mereka ingat. Mahesa hanya bisa geleng-geleng kepala karena tingkah mereka berdua.
“ minggu depan”
Ucap Mahesa kedua temannya pun hanya bisa mengangguk.
“Eh kalau nggak salah besok lombanya kan?”
Tanya Evan.
“Iya”
Ucap Husein.
saat di rumah, Mahesa bingung tema pidato yang ingin dia angkat itu apa.
“Tema pendidikan… bagus tuh kayaknya”
Mahesa pun mulai menulis pidato nya, sementara itu Evan mulai menyiapkan beberapa alat.
“Hm setting dulu deh kameranya”
Evan pun mulai mensetting kamera yang akan digunakan besok. Sedangkan Husein sudah menyiapkan berbagai alat untuk melukis tapi ia belum juga menemukan tema apa untuk gambar nya besok.
“Hm tema apa ya… coba cari referensi deh siapa tau Nemu tema”
Husein pun mulai mencari ide dan tema. Mereka bertiga sibuk menyiapkan berbagai hal yang akan digunakan untuk perlombaan besok. Keesokan harinya, Mahesa menuju kelasnya untuk menaruh barang-barangnya, perlombaan akan dimulai pada jam 09.00 pagi jadi masih ada waktu untuk mempersiapkan diri.
“hm… mana urusan sama Evan ya Kok belum datang?”
Baru saja dibicarakan, mereka berdua sudah datang saja.
“panjang umur baru juga ku bicarakan”
Mereka pun sibuk menyiapkan diri, jam 09.00 pagi pun tiba mereka mulai mencari ruangan perlombaan mereka masing-masing. Husein pun menemukan ruangan lombanya.
“Semangat ya”
Ucap Husein sambil berjalan ke ruang perlombaan lukis. Mahesa dan Evan mulai mencari ruang perlombaan Mereka ternyata ruangan perlombaan itu agak jauh dari lokasi mereka.
Evan pun menemukan ruang perlombaan fotografi tinggal Mahesa sendiri tetapi akhirnya dia menemukan ruang perlombaan pidato. saat ia ingin masuk, banyak peserta yang lebih hebat darinya, Ia pun mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia bisa, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dengan lembut
“Yo Mahesa”
Ucap salah satu teman Mahesa yaitu Rangga.
“Kau juga ikut ya? Semangat ya Kak pasti bisa!”
Perlombaan pun dimulai, satu persatu peserta dipanggil untuk menyampaikan pidato saat giliran Mahesa untuk menyampaikan pidato dia mulai gugup, suaranya sedikit bergetar, tangan nya berkeringat, dan pikiran nya berisik tapi ia berusaha untuk tetap tenang dan saat sudah tenang ia pun mulai berpidato. Beberapa menit kemudian peserta-peserta mulai pulang saat di rumah Mahesa sudah nggak berharap untuk menang dan perlombaan itu apalagi kedua temannya kedua temannya juga Sama halnya dengannya sama-sama nggak berharap menang.
Keesokan harinya pengumuman lomba, Husein, Mahesa, dan Evan tak menang, mereka sudah pasrah. Tapi mereka tak pernah patah semangat dan terus belajar. Yang penting mereka tahu bahwa mereka sudah berusaha semaksimal mungkin dan mencoba dengan usaha mereka sendiri.
“Ya gak menang tapi tak apa Kita harus belajar kan dari kegagalan?”
Tanya Husein, Evan dan Mahesa pun tersenyum.
“Ya dan juga”
Ucap Evan sambil berjalan ke depan.
“ tak patah semangat dan percaya diri”
Ucap Mahesa sambil menepuk pundak Husein dan pundak Evan. Mereka pun terus berusaha dan terus-menerus mengukir prestasi.
Tamat
“Tetap semangat, kekalahan bisa jadi acuan kita apa yang perlu di evaluasi lagi, pokok jangan mudah putus asa”
By: Meliani Annisa
POV Chat grub: iFake (Aplikasi Fake Chat)