Di relung hati, namamu tetap terukir,
Ayah, nahkodah yang kini telah bersemayam.
Dulu, dekapmu hangat, pelukmu pengusir takut,
Kini, hanya rindu yang terasa pekat.
Senda guraumu, nasihat bijakmu,
Lekat diingatan, tak lekang waktu.
Tangan kokohmu yang membimbing langkahku,
Awan telah menyebar di angkasa, menungguku.
Setiap hujan turun, kurasa tetesnya,
Menyampaikan salam, membawa air mata.
Bila kuingat senyum tulusmu,
Seakan tak pernah jauh, Ayahku.
Ayah, tak lagi merasakan kesakitan dan penderitaan
Tapi di sini, Anakmu masih merangkai hari.
Mencoba tegar dan kuat seperti yang Ayah ajarkan,
Meski bayangmu selalu mengiringi.
Ayah, di mana pun kau berada,
Dengarkan bisikku, sampaikan rindu ini.
Semoga suatu saat nanti, kita berjumpa,
Di surga, di keabadian yang utuh